CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS

Sabtu, 09 Mei 2009

"G'TAU"


Cinta Putih Negeri Di Awan

Cinta, fajar ini terasa berbeda sekali. Embun pagi masih basah menetes dari tiap tangkai daun dan rumput di halaman. Langit masih berselimutkan malam dan enggan beranjak dari peraduannya. Begitu juga aku. Tidurku semalam begitu nyenyak. Nyaris tidak ada mimpi. Malam ini adalah pertama kalinya aku tidur di rumah keluarga Mbak Uri di Payakumbuh yang flamboyan. Udara yang dingin ditingkah hujan rintik-rintik, membuatku ingin terus bergelung di balik selimut. Kulihat Mbak Uri yang masih terlelap di sebelahku. Jam telah menunjukkan pukul 5.30, Cinta. Sudah waktunya aku menghadap Penciptaku di ambang fajar ini.

Cinta, air - sedingin es balok yang ditaruh di bak kamar mandi- mengguyur wajahku. Tahukah engkau, Cinta, berwudhu di tengah alam yang sedang tersenyum, menghilangkan segala rasa kantuk dan lelah yang masih tersisa setelah perjalananku ke Padang kemarin. Aku tahu, Cinta, kau juga sedang melakukan hal yang sama denganku. Bersujud menghadap pada-Nya. Di tempat yang berbeda. Satu setengah jam lamanya perjalanan dengan pesawat terbang yang memisahkan kita. Dan setelah itu, kita akan bersiap-siap untuk melaksanakan shalat Ied.

Tetapi di sini berbeda keadaannya, Cinta. Setelah shalat subuh, Mbak Uri memberitahuku bahwa shalat Ied akan dilaksanakan di lapangan tak jauh dari rumahnya sekitar pukul delapan pagi. Benar sekali kata Indra, sahabatku itu, Cinta, bahwa shalat Ied di Padang dilakukan lebih siang daripada di Jakarta. Sungguh bagiku itu sama sekali tidak masalah. Di tahun-tahun sebelumnya, aku harus bersiap-siap untuk pergi ke tempat shalat Ied dilaksanakan setelah shalat subuh. Kalau terlambat, tempat shalat akan dipenuhi orang sehingga aku mendapatkan tempat menggelar sajadah seadanya saja. Aku bersyukur, Cinta, karena kali ini aku tidak harus berpacu dengan waktu, tidak perlu terburu-buru datang ke tempat shalat lebih awal.

Pagi itu turut merekah bersama senyum kami semua, Cinta. Semua orang mengenakan pakaian yang terbaik dan berbondong-bondong memasuki lapangan tempat shalat Ied akan dilaksanakan. Di situ aku bertemu dengan sanak keluarga dan kaum kerabat Mbak Uri yang lain. Juga teman-teman Mbak Uri yang telah kukenal sebelumnya di Jakarta. Aku menggelar sajadahku sambil menatap sekeliling. Lapangan berumput hijau yang dikelilingi oleh gunung-gunung yang berselaput awan. Bergumpal-gumpal awan berlomba-lomba membentuk gambar yang terindah yang pernah kulihat. Duduk di atas sajadah sambil menunggu shalat Ied dimulai dengan rengkuhan langit dan gunung-gunung yang menggapai awan disertai kicauan burung-burung pipit padi dan ucapan minal aidin wal faidzin dari orang-orang yang berbaju lebih putih dari pada salju, adalah saat-saat yang tak dapat terlupakan dalam hidupku.

Kemudian aku melihat ibu-ibu berbondong-bondong membawa nampan berisi makanan di atas kepala mereka, beserta teko-teko berisi air dan teh manis. Semuanya menuju lapangan tempat shalat Ied. Mereka menaruh semua makanan itu dalam barisan-barisan yang diatur rapi di bagian depan shaf para ikhwan. Sementara itu, Cinta, ponselku dibanjiri oleh ratusan sms dan telepon-telepon dari sahabat-sahabatku, kenalanku, bahkan dari nomor yang tidak aku kenal. Ucapan selamat Idul Fitri yang sangat beragam. Mulai dari yang serius, yang lucu, yang berisi doa, puisi-puisi. Bahkan ada yang mencoba merayuku dengan mengirimkan bermacam-macam sms puisi cinta. Manusia dengan segala warna-warninya. Walau telah kucoba untuk membalas sms-sms tersebut satu persatu di malam sebelumnya, tetap saja tidak dapat kubalas semuanya. Tetapi, ini saatnya menghadap Sang Maha Cinta, jadi aku meninggalkan ponselku di kamar Mbak Uri dan membiarkannya berdering-dering tanpa ada yang menjawabnya.

Cinta, aku bertanya pada Mbak Uri mengapa ibu-ibu itu membawa banyak makanan ke tengah lapangan. Mbak Uri tersenyum penuh misteri.

“Tunggu saja nanti,” jawabnya.

Shalat Ied dimulai. Udara segar membelai pipiku, mengibarkan kerudung dan mukenahku, serta bersama-sama alam kami semua mengumandangkan takbir memuji kebesaran Sang Pencipta. Allahu Akbar! Cinta, Ia-lah yang menautkan hati-hati kita semua, saudara seiman di dalam kebeningan pagi.

Kemudian kutbah Idul Fitri pun dimulai. Satu-satunya kutbah yang kudengarkan dengan terjemahan yang dibisikkan Mbak Uri di sampingku karena kutbah tersebut disampaikan dengan bahasa Minang. Kutbah yang keren sekali, setidaknya menurutku, Cinta. Kau tahu, Cinta, khotib itu melantunkan pantun-pantun dan puisi-puisi indah yang kita sukai. Puisi-puisi yang mengisi malam-malam kita yang hitam. Puisi-puisi tentang indahnya kembali fitri. Baru kali ini aku mendengarkan kutbah yang berisi puisi-puisi kegemaran kita. Ah Cinta, seandainya engkau berada di sini, aku yakin kau juga akan menyukainya. Orang-orang yang tidak beranjak sedikit pun dari tempat duduk mereka. Mendengarkan kutbah hingga selesai. Berbeda dengan kutbah Idul fitri yang kuikuti di Jakarta. Seringkali orang-orang sudah meninggalkan tempat shalat justru pada saat kutbah dimulai.

Begitulah, Cinta. Setelah kutbah yang bernuansa sastra itu, para lelaki berkumpul menuju tempat nampan-nampan berisi makanan itu diletakkan. Lalu mereka semua duduk bersila dan makan bersama dari nampan-nampan itu. Para perempuan akan mendapat giliran setelah para lelaki selesai makan.

Pertama kalinya dalam hidupku, Cinta, aku makan bersama dengan banyak orang yang sebagian besar tidak kukenal. Di tengah lapangan yang dikelilingi dengan rumput dan padi yang menguning serta gunung-gunung berselimut awan yang mengelilingi kami. Makanan yang kurasa tidak habis-habisnya karena beraneka ragam makanan tersedia di situ. Nasi, opor ayam, rendang, lontong, donat, kue-kue, pecel, mie, bihun sayur dan makanan-makanan lain yang tidak kuketahui namanya, tetapi rasanya enak sekali. Aku makan sampai kenyang, bergabung dengan penduduk setempat.

“Orang-orang di desa ini rumahnya letaknya berjauhan satu dengan yang lain, jadi akan memakan banyak waktu dan tenaga apabila kita singgah ke rumah mereka satu per satu. Karena itulah, setelah shalat Ied, kami berkumpul dan makan bersama di lapangan ini. Sebagai ajang silaturahim dan bermaaf-maafan,” kata Mbak Uri menjelaskan di sela-sela makanan yang terus dicurahkan para ibu ke dalam piringku.

“Dan satu lagi, Mbak Lia. Makanan yang ada di piringmu harus dihabiskan,” kata Mbak Uri sambil tertawa saat melihatku terkejut karena piringku diisi terus dengan makanan.

Jadilah siang itu aku makan sampai kenyang, Cinta. Sekilas kulihat awan putih di atas gunung Singgalang merebak memancarkan cahaya mentari yang berwarna putih kekuningan. Walau berita duka juga terdengar bahwa ada dua warga desa itu yang berpulang karena kecelakaan, tidak menyurutkan hati-hati berselubung putih untuk merayakan hari kemenangan. Justru setelah makan bersama, kami semua berbondong-bondong menuju rumah warga yang meninggal dunia itu, bergotong royong mempersiapkan pemakaman yang layak bagi mereka.

Cinta, negeri di awan itu yang semula kukira hanya ada dalam lirik lagu Katon Bagaskara ternyata menjelma menjadi nyata di hari yang fitri ini. Sebentuk cinta yang menggerakkan orang-orang yang berada di dalamnya untuk saling bahu membahu, tolong menolong, berbagi kasih dan merenda hari bersama. Menuju kemenangan abadi kelak, cinta putih negeri di awan itu kian berpendar di dalam kalbuku. Selamanya.



baca selengkapnya!!!!!!